» » Seni & Budaya Tradisi Jawa Barat

Seni & Budaya Tradisi Jawa Barat

Penulis By on Rabu, 10 September 2014 |

·         
|

Oleh Hj. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum.

1. PENGANTAR
  1.       Kesenian merupakan salah satu bagian yang integral di dalam  kebudayaan. Kesenian tidak pernah berdiri lepas dari masyarakat. Kesenian hadir dalam kehidupan manusia karena memiliki fungsi dan peran tertentu dalam masyarakat pendukungnya. Oleh sebab itu, kesenian akan tetap hadir dalam suatu masyarakat apabila masyarakat tersebut masih membutuhkannya. Kesenian tumbuh, berkembang, atau mungkin patah/punah mengikuti jalannya sejarah. Perubahan-perubahan kebutuhan hidup, perubahan nilai-nilai yang dianut, memberi pengaruh terhadap kembang surutnya berbagai cabang kesenian.
       Budaya Sunda yang menjunjung tinggi terhadap norma yang berlaku dalam masyarakatnya, menimbulkan kearifan lokal yang bervariasi antara satu daerah dengan derah lainnya. Jawa Barat sebagai salah satu provinsi terpadat penduduknya di Indonesia, memiliki aneka ragam kesenian   yang menghiasi kehidupan masyarakatnya. Hampir setiap daerah memiliki kekhasan kesenian yang unik dan menjadi identitas daerahnya.

2. PENGERTIAN : SENI, BUDAYA, DAN TRADISI
       Istilah seni atau “art” (dalam bahasa Ingris) umumnya hanya dihubungkan dengan bagian seni yang biasa ditandai dengan istilah “plastic” atau “visual” (seni rupa). Akan tetapi sebenarnya terdapat sifat-sifat umum yang dapat diperuntukkan bagi semua cabang seni, musik, drama, maupun sastra.[1] Secara sederhana seni dapat dimaknai sebagai suatu usaha manusia untuk menciptakan bentuk-bentuk yang menyenangkan. Bentuk yang sedemikian itu memuaskan kesadaran keindahan kita dan rasa  indah ini terpenuhi jika kita dapat menemukan kesatuan atau harmoni dari hubungan bentuk-bentuk yang kita amati. Banyak orang yang menganggap bahwa seni atau kesenian adalah sama dengan kebudayaan. Aggapan tersebut kurang tepat karena kesenian adalah hanya merupakan salah satu unsur universal saja dalam sistem budaya.
        Budaya merupakan sebuah sistem yang mempunyai koherensi. Bentuk-bentuk simbolis yang berupa kata, benda, laku, mite, sastra, lukisan, nyanyian, musik, tarian, dan kepercayaan memiliki kaitan erat dengan konsep-konsep epistemologi dan sistem pengetahuan masyarakat.[2] Istilah kebudayaan atau budaya digunakan untuk penamaan suatu kelompok gejala atau peristiwa di dalam dunia eksternal, yang memberikan batasan tentang suatu hal. Kebudayaan tersusun oleh dan dari ide atau gagasan sebagai hasil olah pikir yang kemudian diungkapkan dalam berbagai tindakan terpolakan dari ide tersebut.[3] Kebudayaan sebagai sistem memiliki sub-sistem (cultural universal), dan setiap unsur budaya memiliki unsur kecil atau bagian (cultural item). Terdapat tujuh sub-sistem dalam suatu kebudayaan masyarakat yang bersifat universal, yaitu sistem alat dan dan perlengkapan hidup, mata pencaharian, kemasyarakatan, bahasa, kesenian, dan religi.[4]
       Banyak para pakar budaya yang mengemukakan pendapatnya tentang pengertian apa itu budaya. Dalam konsep awal seorang antropolog bernama Edward Bennet Tylor (1874) mengemukakan pendapatnya tentang cakupan budaya yang sangat luas yang berkaitan dengan segala aspek kehidupan manusia. Ia menyatakan bahwa kebudayaan adalah “...complex whole wich include knowledge, beleif, arts, morals, low, costum, and other capabilities and habits aquired by man as member of society.”[5] Sementara dalam bahasa Indonesia kata kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta, buddhayah (bentuk jamak dari buddhi, yang berarti budi atau akal. Kebudayaan itu berarti segala sesuatu hal yang berkaitan dengan akal.   
       Karena itu, kebudayaan merupakan keseluruhan gagasan dan karya manusia, yang harus dibiasakannya dengan belajar, beserta keseluruhannya dari hasil budi dan karyanya.[6] Dari sekian banyak definisi kebudayaan yang diungkapkan para pakar yang tidak dikemukakan satu persatu,  dapat disimpulkan bahwa kebudayaan adalah pengalaman yang dimiliki masyarakat yang digunakan sebagai pedoman bagi kehidupan warga masyarakat tersebut. Kebudayaan digunakan sebagai acuan untuk melakukan interpretasi lingkungan yang dihadapi, dan untuk mendorong serta menghasilkan terwujudnya tindakan yang bermakna dalam menghadapi lingkungan. Kebudayaan yang terus terpelihara dan turun-temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya dalam suatu lingkungan masyarakat dapat menjadi sebuah tradisi.
          Disebut tradisi apabila sesuatu hal telah tersedia di masyarakat, berasal dari masyarakat sebelumnya, yaitu telah mengalami penerusan turun-temurun antar generasi. Perwujudan tradisi dapat berupa barang, jasa, atau perpaduan antara keduanya. Tradisi yang berbentuk barang merupakan sebuah produk, sedangkan jasa berupa kegiatan yang dilakukan masyarakat yang jenis dan caranya sudah ditentukan. Dalam barang dan jasa tersebut terkandung nilai dan norma yang juga ikut diwariskan bersama.[7]   

3. BUDAYA SUNDA
       Kebudayaan Sunda adalah kebudayaan yang hidup, tumbuh, dan berkembang di kalangan orang Sunda yang pada umumnya berdomisili di Tanah Sunda. Wilayah mukim masyarakat pendukung kebudayaan Sunda adalah di Propinsi Jawa Barat dan Banten. Masyarakat Sunda sebagaimana juga masyarakat etnik lainnya merupakan bentukan sejarah yang memberi sejumlah nuansa tertentu bagi karakteristik kebudayaannya. Dari zaman ke zaman kebudayaan terus hidup sesuai dengan situasi dan kondisi kehidupan sosial masyarakatnya. Kebudayaan Sunda yang beraneka ragam memiliki keunikan dan ke khasan tersendiri yang membedakannya dari kebudayaan-kebudayaan lain.
          Masyarakat Sunda pada awalnya memiliki budaya huma dalam mata pencahariannya, kemudian sejalan dengan perkambangan zaman mata pencaharian mereka beralih pada bertani. Oleh sebab itu padi menjadi sangat penting dalam kehidupan masyarakatnya. Maka berbagai upacara yang menyangkut kesuburan tanah sering digelar oleh masyarakatnya. Hubungan kekerabatannya babarayaan menjadi terasa lebih dekat dengan adanya tradisi pancakaki. Sejalan dengan perkembangan zaman mata pencaharian di Jawa Baratbertambah dengan menjadi masyarakat industri.
        Unsur budaya lain yang perlu dilihat adalah sistem kepercayaan. Sistem kepercayaan merupakan sistem religi yang dibangun setiap manusia dalam etnik tertentu, terjalin dalam rangkaian folkways (kebiasaan-kebiasaan rakyat) yang selalu terkait dengan pandangan mitis, kosmis, dan mitologis. Di Jawa Barat ini dibangun sistem religi asli dan religi pendatang. Di mana-mana ditemukan aura sinkretisme dalam masyarakat yang juga tercermin dalam kesenian. Namun demikian mereka juga merupakan pemeluk agama yang teguh (Islam).
         Di dalam budaya Sunda ada  tradisi yang menyangkut lingkaran kehidupan, misalnya terdapat kebiasaan ketika seorang istri sedang mengandung ada perilaku yang harus dijaga, selalu memperhatikan hal-hal yang indah, bertingkah laku baik menurut norma tertentu, dan lain-lain. Ada larangan-larangan yang tidak boleh dilanggar. Ada pula adat istiadat yang berhubungan dengan daur hidup, yaitu kelahiran, pernikahan, sunatan, dan kematian.
         Masyarakat Sunda juga memiliki pandangan hidup. Orang Sunda memandang penting sebagai pribadi yang digambarkan oleh tingkah laku dan bahasanya. Contoh, “kudu hade gogog, hade tagog” (harus baik budi bahasa dan tingkah laku);“nyaur kudu diukur, nyabda kudu diungang” (selalu mengendalikan diri dalam berkata); “sacangren pageuh, sagolek pangkek” (teguh pendirian tidak boleh melanggar janji); “ulah lah ka purwadaksina” (ingatlah pada asal, tetaplah sederhana jangan angkuh). Juga dalam lingkungan sosial, misalnya ungkapan ini dipakai sebagai falsafah orang Sunda. “kudu silih asih, silih asah, jeung silih asuh” (harus saling mengasihi, mengasah, dan saling mengasuh di antara sesama); “ulah ngaliarkeun taleus ateul” (jangan menyebarkan hal yang menimbulkan keburukan); ‘lain palid ku cikiih,  lain datang ku cileuncan” (bukan hadir tanpa tujuan); “taraje nanggeuh dulang tinande” (sikap menjalankan kewajiban, terutama seorang istri ke suaminya), dan masih banyak lagi yang lainnya.[8]  
         Orang Sunda juga memandang Tuhan sebagai sesuatu yang memiliki kekuasaan tunggal, taqwa, dan sangat meyakini pada saatnya nanti akan kembali kepada Nya. Maka ada ungkapan “mulih ka jati, mulang ka asal” (meninggal, berasal dari Tuhan kebali kepada Tuhan); “dihin pinasti anyar pinanggih” (senantiasa percaya bahwa segala sesuatu yang terjadi  alah kehendak Tuhan); dan lain-lain. Apabila ada kemajuan lahiriah, orang Sunda harus tetap mematuhi norma-norma tertentu, seperti “ulah pagiri-giri calik, pagirang-girang tampian” (janganlah berebut kekuasaan dan jabatan); “ulah ngukur baju sasereg awak” (janganlah melihat sesuatu dari kepentingan pribadi); ”ulah nyaliksik ka buuk leutik” (janganlah memeras rakyat kecil); dan lain-lain. Orang Sunda juga memiliki kontrol sosial yang sesuai dengan norma tertentu, misalnya “kudu bisa mihapekeun maneh” (harus dapat menitipkan diri); “tiis ceuli herang mata” (hidup damai dan tentram).[9]
        Apabila kita amati dari berbagai wilayah Jawa Barat terbagi dalam lima wilayah budaya, yaitu wilayah budaya Banten, wilayah budaya Priangan, wilayah budaya Cirebon, wilayah budaya kaleran, dan wilayah budaya pakidulan.

4. KESENIAN  SUNDA
       Kesenian yang hidup di Tatar Sunda sangat beraneka ragam. Hal ini menunjukkan bahwa krativitas masyarakat Sunda cukup tinggi dan kreativitas tersebut terjadi sepanjang masa. Dengan demikian dinamika kehidupan kesenian di Tatar Sunda sangat dinamis. Kesenian di Tatar Sunda yang ada dewasa ini  beberapa di antaranya sudah sangat tua hal itu menunjukkan betapa kuat akar budaya orang Sunda dalam berkesenian.
       Kesenian hidup dalam masyarakat karena memiliki fungsi. Demikian halnya dengan kesenian yang hidup di Tatar Sunda.  Ada pun fungsinya dalam kehidupan masyarakat adalah sebagai ritual kesuburan, memperingati daur hidup  sejak kelahiran manusia hingga ia mati,[10] mengusir wabah penyakit, melindungi masyarakat dari lindungan marabahaya, sebagai hiburan pribadi, sebagai presentasi estetis[11], sebagai media propaganda[12], sebagai penggugah solidaritas sosial, sebagai pembangun integritas sosial[13], dan lain-lain.
        Dengan adanya fungsi tersebut maka kesenian akan tetap hidup dan dipelihara masyarakatnya sesuai dengan kehidupan dan perkembangan masyarakat itu sendiri.  Kendatipun fungsi kesenian itu begitu banyak, namun untuk melihat fungsi kesenian di Jawa Barat ini akan dipergunakan teorinya Soedarsono, yang menyebutkan bahwa fungsi primer dari kesenian adalah (1) sebagai sarana ritual; (2) sebagai hiburan pribadi, dan sebagai presentasi estetis.[14]  Kesenian Sunda yang pada awalnya berfungsi ritual di antaranya adalah Tarawangsa atau Jentreng (di Sumedang dan tasikmalaya)); Ronggeng Gunung, Ketuk Tilu (di Priangan), Ronggeng Bugis (Indramayu), Wayang Kulit. Dan lain-lain. Kesenian Sunda yang berfungsi sebagai hiburan pribadi di antaranya, Tayuban, Ketuk Tilu, Bajidoran, Bangreng, Doger, dan lain-lain. Sementara kesenian yang berfungsi sebagai presentasi estetis adalah karya-karya seni yang disajikan “seni sebagai seni” pada umumnya karya-karya ini bersifat kekinian. Ketiga macam fungsi seni tersebut memiliki ketentuan-ketentuan baik dalam tetacara pelaksanaan, tempat, maupun waktu yang dipergunakan dalam acara tersebut.
      Kesenian Sunda juga dapat bagi dari segi pengelompokkan seni, misalnya seni tari, karawitan, beladiri, debus, dan teater tradisional.
 1.       Seni Tari
o   Tari Topeng (Cirebon: Panji, Pamindo, Rumyang, Tumenggung,  Klana)
o   Tari Kursus/Keurseus (Lenyepan, Gawil, Kawitan, Kastawa, Gunungsari)
o   Tari Wayang (Gatotkaca, Subadra, Karna, Srikandi Mustakaweni, dan lain-lain).
o   Tari Rakyat (Ketuk Tilu, Doger, Ronggeng, Bangreng, Bajidoran, dan lain-lain)
o   Kreasi baru (Karya-karya R.Tjetje Somantri, seperti Kandagan, Merak, Sulintang, dan lain-lain).
o   Jaipongan (Karya Gugum Gumbira)
2.        Seni Karawitan
o   Rumpun Angklung: Rengkong, Angklung Badeng, Angklung Baduy, Angklung Buncis, Arumba, Calung.
o   Rumpun Gamelan: Ajeng, Degung, Gamelan Salendro/Pelog, Goong Renteng, Rampak Kendang.
o   Rumpun Helaran: Badawang, Bangbarongan, Kuda Renggong, Sisingaan, Reak, Surak Ibra, Tanjidor, Topeng Benjang.
o   Rumpun Kacapian: Kacapi Suling (tembang Sunda Cianjuran), Jenaka Sunda, Kacapi Biola, Tarawangsa.
o   Rumpun Sekaran: Ciawian, Cigawiran, Kawih, Tembang Buhun, Pantun.
o   Rumpun Terebang: Genjring, Bangreng, Rudat, Tagoni, dan lain-lain.
o   Rumpun Wayang: Cepak Cirebon, Kulit (Indramayu, Bekasi), Golek,
3.       Seni Teater Tradisional: Cador, Topeng Betawi, Topeng Blantek, Topeng Cirebon, Tarling, Ubrug, Uyeg, Sandiwara, Masres, Longser, Topeng Banjet.    
4.       Seni Beladiri: Penca Silat, Benjang, Ujungan
5.       Seni Debus: Debus, Ebeg, Kuda Lumping, Lais, Sintren.
      Selain membagi kelompok kesenian seperti di atas, kesenian juga dapat dilihat dari status sosial. Kesenian yang mewarnai kehidupan masyarakat Sunda abad ke-19 berada dalam dua wilayah budaya yang berbeda yaitu budaya rakyat yang berkembang di kalangan rakyat kebanyakan dan budaya menak yang berkembang di kalangan menak. Kesenian yang hidup di kalangan menak di antaranya adalah Serimpi, Mamaos atau Tembang, Tayuban dan Ibing Keurseus.
        Kesenian tersebut dipagelarkan dalam waktu-waktu tertentu seperti acara pesta pernikahan, khitanan, penyambutan tamu-tamu kehormatan, serta pesta-pesta lainnya.Kesenian yang hidup di kalangan menak dipengaruhi oleh tradisi Jawa yang dianggap sebagai kesenian istana yang bermutu tinggi.  Di kalangan menak menikmati kesenian  bukan sekedar untuk rekreasi, akan tetapi berkaitan dengan politik aristokrasi. Dengan menjadi pengayom seni, kaum aristokrat dapat menonjolkan statusnya dengan gaya hidup yang mempertunjukan kemegahan.[15]
       Kesenian Sunda pada umumnya adalah kesenian rakyat, kehidupan budaya rakyat lebih menonjol bila dibandingkan dengan kehidupan budaya menak. Memang, secara umum dapat dikatakan bahwa ciri utama kebudayaan Sunda adalah sifatnya sebagai kebudayaan rakyat.[16] Dengan demikian kesenian rakyat pun lebih banyak dan lebih variatif. Jenis kesenian rakyat dapat dilihat pada pengelompokkan seni di atas. 

4. PENUTUP
Kesenian itu hanya merupakan salah satu unsur dari kebudayaan. Kesenian Sunda sebagai salah satu unsur kebudayaan Sunda dapat menjadi identitas  masyarakatnya sehingga kesenian yang hidup di daerah tersebut dapat mencerminkan kehidupan masyarakatnya. Kebudayaan termasuk di dalamnya unsur kesenian, sebagai sebuah tradisi di dalamnya terkandung nilai dan norma yang diwariskan dari satu generasi ke generasi lainnya.
Hidup dan matinya sebuah kesenian sangat tergantung pada masyarakat penyangganya. Perkembangan dan perubahan kebudayaan pada suatu  masyarakat dapat merubah bentuk dan fungsi keseniannya. Seperti kesenian yang semula berfungsi untuk kebutuhan  upacara, lambat laun beralih fungsi menjadi seni hiburan. Salah satu penyebabnya adalah berubahnya kehidupan sosial masyarakat. Demikian pula halnya dengan seni hiburan ada yang berubah fungsi menjadi seni tontonan (BSC)
Baca Berita Terkait